Langsung ke konten utama

Pemkot Solo Gelar SUARAGA Fest untuk Angkat Potensi Lokal Jawa Wellness

Pemkot Solo mengangkat potensi lokal masyarakat Jawa di bidang kesehatan, seni budaya dan nilai-nilai hidup yang disebut Jawa Wellness yang dikemas dalam SUARAGA Fest.

Wali Kota Solo Respati Ardi, menyatakan, SUARAGA Fest yang akan digelar 4 - 5 Juli 2026 di kawasan Taman Balekambang, mencakup tiga unsur utama, yakni suara, raga, dan karya.
"Kita ingin membuat sesuatu yang baru untuk membranding identitas Wellness City, yaitu SUARAGA Fest. Ada tiga unsur yang kita tampilkan, yaitu raga dalam wujud yoga, mat pilates, senam kesegaran jasmani, dance cardio, dan berbagai pengalaman wellness," ujarnya di Roemahkoe Heritage Kampung Batik Laweyan, Sabtu (27/6/2026).
Festival yang dominan menampilkan kekhasan nilai-nilai Jawa tersebut, menurut Respati, dipilih karena selama ini banyak event festival yang digelar di Kota Solo kurang melibatkan potensi lokal.
"SUARAGA Fest merupakan event yang mengenalkan filosofi Jawa Wellness, seperti 'jagad kecil jagad ageng' yang  maknanya keseimbangan alam semesta. Juga festival yoga untuk keseimbangan jasmani rohani. Festival ini juga mengenalkan perilaku dan nilai-nilai Jawa, seperti tepa selira, andhap asor, Hamemayu Hayuning Bawono dan lain-lain demi menjaga keharmonisan kehidupan," jelasnya.
Festival yang khas Jawa dan mengusung semangat “Pagi untuk Raga, Malam untuk Suara”, kata Respati, intinya adalah memadukan musik, kebugaran, budaya, kreativitas, dan aktivitas komunitas.
"Seni tradisi gamelan, wayang orang, sastra dan musik lokal hasil kurasi kita beri ruang di SUARAGA Fest. Event ini akan kita gelar setiap tahun agar menjadi wahana pengembangan ekonomi kreatif, seperti karya instalasi seni, pasar kreatif, kuliner dan sebagainya," tandasnya.
Penanggungjawab SUARAGA Fest, Kiki Aulia Ucup yang akrab disapa Ucup atau biasa dipanggil Suhe, menjelaskan,  melalui event ini Pemkot Solo ingin menunjukkan, budaya Jawa dapat terus berkembang dan dipadukan dengan musik, kreativitas, aktivitas komunitas, serta gaya hidup sehat kekinian.
Rangkaian kegiatannya meliputi panggung musik SUARAGA, di antaranya menghadirkan Barasuara, Nadhif Basalamah, Silampukau, Man Osman bersama Traffic Jam dalam Special Keroncong Set, serta penampilan Maliq & D’Essentials, Fanny Soegi dan lain-lain.
"Rangkaian olahraga dan wellness akan melibatkan Anjasmara, Amanda Tasning, Debbie dan Deecee, Sazou Gautama, Rindu dan Carissa bersama Ify Alyssa, Tari, serta Laila Munaf, Meiske, dan Wulan. Selain itu ada atsiri Jawa dan Premium Wellness Experience berupa Beksan Laku Jawi, Laras Wening, dan Racik Candra. Program tersebut akan membawa pengunjung Taman Balekambang merasakan pengalaman wellness melalui gerak, rasa, aroma, dan ketenangan," jelas Suhe.***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kearifan Lokal dari Kepulauan Maluku

Tatkala wilayah Kepulauan Maluku, Seram, Ambon, Banda dan sekitarnya belum terkoyak oleh konflik berdarah berkepanjangan yang menelan banyak korban jiwa, wilayah yang dihuni banyak suku dengan beragam agama itu begitu damai. Selama berabad-abad masyarakat hidup rukun, saling bantu dan saling dukung dalam berbagai segi kehidupan. Kunci kedamaian dan kerukunan itu, tidak lain adalah tradisi dan adat masyarakat setempat yang disebut “Pela Gandong.” Sebuah tradisi yang hanya memberi ruang bagi terciptanya harmoni dalam kehidupan masyarakat. Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, sangat mengagungkan harkat kemanusiaan secara utuh tanpa memandang perbedaan dalam wujud apapun. “Pela Gandong” terdiri dari dua kata dalam bahasa daerah Ambon. Arti harfiahnya, “pela” berarti “kampung” dan “gandong” bermakna saudara kandung. Berdasarkan arti kata tersebut, dalam praktik kehidupan masyarakat “Pela Gandong” adalah “warga sekampung (Kepulauan Maluku) adalah saudara sekandung.” Jadi, setelah...

Sultan & Sunan di Keraton Jawa

Sebutan Sultan bagi seorang raja, terdapat di berbagai Negara. Di Malaysia, banyak ditemukan raja bergelar sultan. Di Negeri Jiran itu, di antaranya ada Sultan Johor, Sultan Kelantan dan sebagainya. Di Brunei Darussalam, Kepala Negaranya juga seorang Sultan bernama, Sultan Hasanal Bolkiah. Di Bumi Nusantara, sejak semasa zaman aristokrasi dulu sampai di abad modern ini masih banyak raja – meski tanpa kerajaan yang berdaulat mandiri – yang menyandang sesebutan sultan. Dari ujung timur Indonesia ada Sultan Ternate, di Bumi Sulawesi ada Sultan Hasanudin, kemudian di daerah lain ada Sultan Siak, di Banten zaman baheula ada Sultan Banten, di Cirebon ada Sultan Cirebon dan masih banyak lagi. Barangkali yang paling popular di masa kini adalah Sri Sultan Hamengkubuwono X yang bertahta di Keraton Yogyakarta. Dalam tradisi keraton Jawa sendiri – dalam hal ini Keraton Surakarta Hadiningrat dan Keraton Yogyakarta Hadiningrat yang merupakan penerus dinasti Mataram – ada dua sebutan raja di masing...