Langsung ke konten utama

Kearifan Lokal dari Kepulauan Maluku

Tatkala wilayah Kepulauan Maluku, Seram, Ambon, Banda dan sekitarnya belum terkoyak oleh konflik berdarah berkepanjangan yang menelan banyak korban jiwa, wilayah yang dihuni banyak suku dengan beragam agama itu begitu damai. Selama berabad-abad masyarakat hidup rukun, saling bantu dan saling dukung dalam berbagai segi kehidupan.
Kunci kedamaian dan kerukunan itu, tidak lain adalah tradisi dan adat masyarakat setempat yang disebut “Pela Gandong.” Sebuah tradisi yang hanya memberi ruang bagi terciptanya harmoni dalam kehidupan masyarakat. Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, sangat mengagungkan harkat kemanusiaan secara utuh tanpa memandang perbedaan dalam wujud apapun.
“Pela Gandong” terdiri dari dua kata dalam bahasa daerah Ambon. Arti harfiahnya, “pela” berarti “kampung” dan “gandong” bermakna saudara kandung. Berdasarkan arti kata tersebut, dalam praktik kehidupan masyarakat “Pela Gandong” adalah “warga sekampung (Kepulauan Maluku) adalah saudara sekandung.” Jadi, setelah warga kampung mengikat “Pela Gandong” (yang merupakan warisan tradisi leluhur) melalui suatu upacara yang disebut “Patita” atau kenduri yang konon di masa lampau pakai upacara minum tuak segala, mereka sudah menjadi saudara sekandung.
Masyarakat Kepulauan Maluku, memegang teguh tradisi “Pela Gandong” dan secara sadar mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya sebagai pemanis bibir. Orang-orang luar yang pernah berada di wilayah kepulauan itu, mungkin pernah menyaksikan masyarakat yang bergotongroyong membangun tempat ibadah – baik masjid atau gereja. Warga masyarakat yang bersatu-padu bahu-membahu mengerjakan pembangunan itu, tidak terbatas pada pemeluk agama yang tempat ibadahnya sedang dibangun. Namun banyak warga yang beragama lain ikut membantu, bukan hanya berupa tenaga namun tidak sedikit yang membawa material, makanan dan lain-lain. Ketulusan segenap lapisan warga dalam saling membantu itu, menjadi salah satu perekat yang paling kuat bagi terwujudnya kedamaian dan kerukunan.
Terlebih dari itu, yang menjadikan warga masyarakat begitu taat terhadap “Pela Gandong”, di antaranya karena ada sanksi sosial. Bagi mereka yang melanggar “Pela Gandong” akan dikucilkan dari kelompok manapun. Sanksi sosial itu berlaku bagi masyarakat Kepulauan Maluku di manapun mereka berada, termasuk mereka yang merantu di luar Maluku.
Itu sebabnya, konflik berdarah yang dampaknya masih terasa sampai sekarang, begitu menghentakkan hati nurani. Pertanyaan kita orang-orang di luar Ambon dan Maluku yang pernah menyaksikan dan merasakan indahnya harmoni pluralitas masyarakat di kepulauan itu, sudahkah “Pela Gandong” yang sedemikian sakral dan memiliki kandungan nilai-nilai luhur kini telah pulih kembali?
Semoga demikianlah adanya. Dengan begitu, angin surga kearifan local dari Kepulauan Maluku itu akan dapat menjadi motivasi bagi terciptanya kedamaian dan kerukunan di belahan bumi lainnya.

CATATAN: Terima kasih kepada masyarakat Dusun Waisarisa dan Kamal, Desa Kairatu, Kab. Maluku Tengah, atas keramahannya dalam memberikan informasi seputar “Pela Gandong”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sultan & Sunan di Keraton Jawa

Sebutan Sultan bagi seorang raja, terdapat di berbagai Negara. Di Malaysia, banyak ditemukan raja bergelar sultan. Di Negeri Jiran itu, di antaranya ada Sultan Johor, Sultan Kelantan dan sebagainya. Di Brunei Darussalam, Kepala Negaranya juga seorang Sultan bernama, Sultan Hasanal Bolkiah. Di Bumi Nusantara, sejak semasa zaman aristokrasi dulu sampai di abad modern ini masih banyak raja – meski tanpa kerajaan yang berdaulat mandiri – yang menyandang sesebutan sultan. Dari ujung timur Indonesia ada Sultan Ternate, di Bumi Sulawesi ada Sultan Hasanudin, kemudian di daerah lain ada Sultan Siak, di Banten zaman baheula ada Sultan Banten, di Cirebon ada Sultan Cirebon dan masih banyak lagi. Barangkali yang paling popular di masa kini adalah Sri Sultan Hamengkubuwono X yang bertahta di Keraton Yogyakarta. Dalam tradisi keraton Jawa sendiri – dalam hal ini Keraton Surakarta Hadiningrat dan Keraton Yogyakarta Hadiningrat yang merupakan penerus dinasti Mataram – ada dua sebutan raja di masing...

Jejak Sejarah Rumah Kopi Margoredjo dari Cimahi ke Semarang Bertahan Lebih Seabad

Menyeruput secangkir kopi dengan kenikmatan aromanya, bisa dilakukan sambil nongkrong di kedai-kedai kopi yang kini bertebaran di kota-kota sampai pelosok desa. Tetapi menikmati otentiknya aroma kopi sambil menghayati jejak sejarah panjang kejayaan kopi di Indonesia, hanya ada di Kota Semarang. Koffiebranderij & Koffiehuis "Margoredjo" di kawasan Pecinan, Jl. Wotgandul Barat No. 14, Kranggan, Kota Semarang, adalah sebuah rumah kopi yang pada tahun 1915 merupakan salah satu pabrik pengolahan kopi terkemuka di Nusantara. Rumah kopi itu berada di bangunan tua berusia lebih dari seabad yang tetap dipertahankan keasliannya. Bangunan utamanya berupa rumah tinggal berarsitektur gaya Eropa dengan pilar bulat di bagian teras. Sedangkan di bagian belakang rumah terdapat pabrik pengolahan kopi yang kini tinggal tersisa mesin-mesinnya. Pabrik penggorengan atau roastery dan penggilingan kopi "Margoredjo", merupakan perusahaan keluarga yang kini masih dipertahankan pewarisnya...

Teater Hidup Pengantin Jawa

Dalam lingkaran hidup masyarakat Timur, khususnya masyarakat Jawa di Solo dan Yogya, sejak seseorang lahir sampai di masa tua seringkali mengalami tahap-tahap yang membawa kesan estetika dan eksotisme tersendiri. Keindahan dan romantisme dalam setiap tahapan, banyak termanifestasikan dalam bentuk ritus dan upacara adat dan tradisi yang menurut kacamata modern begitu rumit. Itu sebabnya, “manusia Jawa” – katakanlah begitu – seolah-olah hidup di panggung teater yang tidak terlepas dari ritus-ritus dan upacara lingkaran kehidupan. Bisa jadi kesan indah dan eksotis itu melintas semasa seseorang masih kanak-kanak. Seseorang yang lain mungkin menjumpai kesan keindahannya di masa puber pada usia remaja atau saat dia menginjak usia dewasa. Semua kesan itu berkembang seiring bertumbuhnya peradaban umat manusia yang kian tak terjajagi. Di antara sederet pengalaman hidup yang memberikan kesan paling dalam (yang dialami hampir setiap orang) adalah di saat seseorang menikah dan menjadi raja sehari...