Sabtu, 04 Juli 2026

Jejak Sejarah Rumah Kopi Margoredjo dari Cimahi ke Semarang Bertahan Lebih Seabad

Menyeruput secangkir kopi dengan kenikmatan aromanya, bisa dilakukan sambil nongkrong di kedai-kedai kopi yang kini bertebaran di kota-kota sampai pelosok desa.

Tetapi menikmati otentiknya aroma kopi sambil menghayati jejak sejarah panjang kejayaan kopi di Indonesia, hanya ada di Kota Semarang.

Koffiebranderij & Koffiehuis "Margoredjo" di kawasan Pecinan, Jl. Wotgandul Barat No. 14, Kranggan, Kota Semarang, adalah sebuah rumah kopi yang pada tahun 1915 merupakan salah satu pabrik pengolahan kopi terkemuka di Nusantara.

Rumah kopi itu berada di bangunan tua berusia lebih dari seabad yang tetap dipertahankan keasliannya. Bangunan utamanya berupa rumah tinggal berarsitektur gaya Eropa dengan pilar bulat di bagian teras. Sedangkan di bagian belakang rumah terdapat pabrik pengolahan kopi yang kini tinggal tersisa mesin-mesinnya.

Pabrik penggorengan atau roastery dan penggilingan kopi "Margoredjo", merupakan perusahaan keluarga yang kini masih dipertahankan pewarisnya generasi ketiga, Widayat Basuki Dharmowiyono, yang biasa disapa Pak Basuki.

Pewaris pabrik "Margoredjo" tersebut, kini membranding rumah kopinya dengan nama "Dharma Botique Roastery." Tempat ngopi di rumah penyangrai yang tersembunyi di balik tembok tanpa papan nama mencolok. Hanya ada logo bertuliskan "Koffiehuis Margoredjo 1915", tertempel di pintu besi dengan cat warna abu-abu yang berukuran 1,5 X 2 meter persegi.

Di sisi kiri pintu besi, terpampang papan nama kecil warna merah berukuran kira-kira 40 X 60 sentimeter, bertuliskan "Est-1915 Koffiebranderij & Koffiehuis Margoredjo, Jl. Wotgandul Barat No. 14, Kranggan, Semarang. Open 09.00 - 17.00. Closed Every Sunday."

Basuki sebagai pemilik "Dharma Botique Roastery", mewarisi pabrik kopi "Margoredjo" dari kakek buyutnya Tan Tiong le. Seorang pengusaha asli Semarang yang sebelum menekuni usaha pabrik kopi, gagal dalam usaha pabrik roti dan perusahaan kayu.

Di tahun 1915, Tan Tiong Ie meninggalkan usaha pabrik roti dan kayu untuk merintis usaha baru, yaitu mendirikan pabrik kopi di Cimahi, Jawa Barat. Setelah 9 tahun mengembangkan pabrik kopi di Cimahi, Tan Tiong Ie memutuskan memindahkan pabrik tersebut ke kota kelahirannya Semarang dan memberi nama "Margoredjo."

Di balik rumah tinggal Basuki yang teduh di antara pengapnya kawasan Pecinan Kota Semarang, tersimpan sejumlah mesin bekas pengolah kopi yang tidak berfungsi lagi namun masih terawat baik.

Mesin-mesin tua, di antaranya dua unit mesin penyangrai kopi dengan merk "Eureka" yang berkapasitas penggorengan 150 kilogram dan 60 kilogram, berada di bagian depan ruang produksi bersama dua unit mesin penggiling. 

Sedangkan di ruang belakang pabrik seluas sekitar 200 meter persegi tersebut, juga terdapat beberapa unit mesin dengan kapasitas lebih kecil, antara 50 - 100 kilogram. Semua alat produksi yang sebagian telah keropos termakan karat, kini menjadi koleksi museum Koffiehuis Margoredjo yang melengkapi rumah kopi "Dharma Botique Roastery."

Achmad Agung, salah seorang barista dan roaster rumah kopi "Dharma Botique Roastery" sebagai pemandu museum, menjelaskan, Koffiebranderij & Koffiehuis "Margoredjo" pada dasa warsa 1930-an merupakan salah satu pemasok kopi terbesar di Nusantara.

Sambil menunjuk kliping koran De Locomotief edisi 2 Oktober 1947 yang terpasang di antara koleksi mesin kopi, Agung menyatakan, sampai tahun 1929 sejumlah pabrik kopi di Semarang tercatat memasok 326 ton kopi atau 69 persen dari total pasar kopi Hindia-Belanda. 

"Dari jumlah itu, kira-kira 200 ton atau 60 persen kopi olahan di Hindia Belanda berasal dari Margoredjo. Selain itu, sebagian di antara produksi kopi Margoredjo diekspor ke Singapura dan Malaysia," ujarnya.

Masa kejayaan rumah kopi "Margoredjo" mulai mengalami kemunduran setelah tahun 1930-an. Pada 1960-an, kata Agung, pabrik kopi tersebut mulai menghentikan produksi karena kesulitan bahan bakar gas untuk memanaskan mesin penyangrai. Penyebabnya, karena perusahaan gas berbahan batubara milik sebuah kongsi Belanda saat juga tutup.

"Saat itu, di pasaran juga mulai beredar kopi kemasan sachet. Kopi produksi Margoredjo harus menghadapi persaingan yang berat. Sehingga keluarga Tan Tiong Ie yang mewarisi pabrik Margoredjo menghentikan produksi," jelasnya.

Meskipun pabrik kopi Margoredjo dihentikan, penjualan kopi dalam skala kecil tetap berjalan. Widayat Basuki Dharmowiyono sebagai pewaris pabrik kopi Margorejo generasi ketiga, membuat inovasi rumah penyangrai dengan konsep perpaduan kedai kopi dan sejarah kopi Semarang dengan label "Dharma Botique Roastery" itu.

Di rumah kopi tersebut, para pengunjung bisa bersantai di pelataran rumah sambil menikmati beragam kopi khas asal berbagai daerah Nusantara. 

Di rumah penyangrai yang tidak begitu luas, para pengunjung bebas memilih bermacam-macam kopi dari Sabang sampai Merauke di dalam stoples yang berjajar rapi di meja panjang.

Di rumah penyangrai itulah biji kopi dengan aromanya yang menggugah selera digiling dan hasil seduhan para barista disajikan ke para pengunjung.***





Solo Heritage Festival di Hari Purbakala Nasional Ajak Gen Z Sadari Pentingnya Pelestarian Cagar Budaya

Pemerintah Kota (Pemkot) Solo di Hari Purbakala Nasional yang diperingati setiap tanggal 14 Juni, menggelar even "Solo Heritage Festival 2026" selama tiga hari (12 - 14/6/2026), di 3 lokasi cagar budaya Taman Balekambang, Dalem Sasono Mulyo Keraton Surakarta dan di Museum Keris Nusantara.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Solo, Maretha Dinar Cahyono, di kantornya Jumat (5/6/2026), menjelaskan, "Solo Heritage Festival 2026" merupakan sebuah perayaan budaya yang memadukan pelestarian warisan sejarah dengan berbagai aktivitas kreatif dan edukatif bagi masyarakat. 

"Solo Heritage Festival menjadi bagian dari peringatan Hari Purbakala Nasional yang diperingati setiap tanggal 14 Juni. Sekaligus sebagai upaya untuk menghidupkan kembali ruang-ruang cagar budaya sebagai pusat aktivitas masyarakat dan pariwisata," ujarnya.

Maretha menyatakan, festival yang mengusung tema “Rupa Rasa Warisan" merefleksikan dua kekuatan utama warisan budaya Kota Solo. 

"Rupa" adalah bangunan bersejarah, arsip, dan berbagai artefak yang menjadi saksi perjalanan kota, serta  "Rasa" berupa cerminan tradisi, adat, seni pertunjukan, musik, maupun nilai-nilai budaya yang hidup dan berkembang di masyarakat. 

"Festival ini tidak hanya menjadi ajang hiburan. Tetapi juga menjadi sarana edukasi, pelestarian warisan budaya dan pengembangan pemanfaatan cagar budaya. Warisan budaya bukan hanya tentang menjaga bangunan atau benda bersejarah. Tetapi juga merawat nilai, cerita, dan tradisi yang hidup di masyarakat. Melalui Solo Heritage Festival 2026, Kami ingin mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih mengenal, mencintai, dan terlibat dalam pelestarian budaya Kota Solo melalui Solo Heritage Festival," jelasnya.

Menanggapi banyaknya bangunan bersejarah yang diduga situs yang cagar budaya, kepala Disbudpar itu mengungkapkan, Pemkot Solo mengacu pada UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya. 

"Tetapi masalahnya, banyak bangunan bersejarah yang berstatus bangunan privat dengan kepemilikan di tangan ahli waris. Bangunan warisan Ki Padmosusastro dan bangunan Dalem Tumenggungan juga milik perorangan. Sehingga saat bangunan tersebut dibongkar pemiliknya, Pemkot Solo hanya bisa melapor ke Balai Perlestarian Cagar Budaya atau Balai Pelestarian Kebudayaan," ujar Maretha.

Ia menyebutkan, saat ini di Kota Solo tercatat lebih dari 100 bangunan bersejarah yang diduga merupakan situs cagar budaya. 

Kepemilikannya, selain milik pemerintah banyak yang merupakan bangunan privat. Salah satu situs bersejarah milik Pemkot Solo yang dalam status sengketa dengan ahli waris, adalah Taman Sriwedari peninggalan Keraton Surakarta.

"Pemkot Solo tetap merawat bangunan Gedung Wayang Orang Sriwedari dan Museum Radya Pustaka. Selain itu Pemkot Solo melalui Dinas PUPR juga merevitalisasi bangunan Segaran yang berada dalam satu kawasan Taman Sriwedari," ungkapnya.

Dalam upaya mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pelestarian cagar budaya, lanjut Maretha, khususnya kalangan generasi muda Gen Z diajak memperkuat kesadaran terhadap pelestarian cagar budaya dan meningkatkan kecintaan terhadap budaya lokal di Kota Solo.

"Kegiatan Solo Heritage Festival dirancang untuk menarik minat Gen Z, di antaranya berupa Senam Nostalgia Sepanjang Masa, Peduli Cagar Budaya dengan menanam pohon di lokasi Cagar Budaya, Lomba Storynomic Warisan Budaya, Lomba Desain Batik, Pasar Nostalgia, Bincang Film dan Pemutaran Film berlatar Cagar Budaya, termasuk edukasi aksara Jawa," ujar Maretha, yang didampingi Angga dan Baskoro, panitia pelaksana festival.***





Pemkot Solo Gelar SUARAGA Fest untuk Angkat Potensi Lokal Jawa Wellness

Pemkot Solo mengangkat potensi lokal masyarakat Jawa di bidang kesehatan, seni budaya dan nilai-nilai hidup yang disebut Jawa Wellness yang dikemas dalam SUARAGA Fest.

Wali Kota Solo Respati Ardi, menyatakan, SUARAGA Fest yang akan digelar 4 - 5 Juli 2026 di kawasan Taman Balekambang, mencakup tiga unsur utama, yakni suara, raga, dan karya.
"Kita ingin membuat sesuatu yang baru untuk membranding identitas Wellness City, yaitu SUARAGA Fest. Ada tiga unsur yang kita tampilkan, yaitu raga dalam wujud yoga, mat pilates, senam kesegaran jasmani, dance cardio, dan berbagai pengalaman wellness," ujarnya di Roemahkoe Heritage Kampung Batik Laweyan, Sabtu (27/6/2026).
Festival yang dominan menampilkan kekhasan nilai-nilai Jawa tersebut, menurut Respati, dipilih karena selama ini banyak event festival yang digelar di Kota Solo kurang melibatkan potensi lokal.
"SUARAGA Fest merupakan event yang mengenalkan filosofi Jawa Wellness, seperti 'jagad kecil jagad ageng' yang  maknanya keseimbangan alam semesta. Juga festival yoga untuk keseimbangan jasmani rohani. Festival ini juga mengenalkan perilaku dan nilai-nilai Jawa, seperti tepa selira, andhap asor, Hamemayu Hayuning Bawono dan lain-lain demi menjaga keharmonisan kehidupan," jelasnya.
Festival yang khas Jawa dan mengusung semangat “Pagi untuk Raga, Malam untuk Suara”, kata Respati, intinya adalah memadukan musik, kebugaran, budaya, kreativitas, dan aktivitas komunitas.
"Seni tradisi gamelan, wayang orang, sastra dan musik lokal hasil kurasi kita beri ruang di SUARAGA Fest. Event ini akan kita gelar setiap tahun agar menjadi wahana pengembangan ekonomi kreatif, seperti karya instalasi seni, pasar kreatif, kuliner dan sebagainya," tandasnya.
Penanggungjawab SUARAGA Fest, Kiki Aulia Ucup yang akrab disapa Ucup atau biasa dipanggil Suhe, menjelaskan,  melalui event ini Pemkot Solo ingin menunjukkan, budaya Jawa dapat terus berkembang dan dipadukan dengan musik, kreativitas, aktivitas komunitas, serta gaya hidup sehat kekinian.
Rangkaian kegiatannya meliputi panggung musik SUARAGA, di antaranya menghadirkan Barasuara, Nadhif Basalamah, Silampukau, Man Osman bersama Traffic Jam dalam Special Keroncong Set, serta penampilan Maliq & D’Essentials, Fanny Soegi dan lain-lain.
"Rangkaian olahraga dan wellness akan melibatkan Anjasmara, Amanda Tasning, Debbie dan Deecee, Sazou Gautama, Rindu dan Carissa bersama Ify Alyssa, Tari, serta Laila Munaf, Meiske, dan Wulan. Selain itu ada atsiri Jawa dan Premium Wellness Experience berupa Beksan Laku Jawi, Laras Wening, dan Racik Candra. Program tersebut akan membawa pengunjung Taman Balekambang merasakan pengalaman wellness melalui gerak, rasa, aroma, dan ketenangan," jelas Suhe.***