Langsung ke konten utama

Postingan

Jejak Sejarah Rumah Kopi Margoredjo dari Cimahi ke Semarang Bertahan Lebih Seabad

Menyeruput secangkir kopi dengan kenikmatan aromanya, bisa dilakukan sambil nongkrong di kedai-kedai kopi yang kini bertebaran di kota-kota sampai pelosok desa. Tetapi menikmati otentiknya aroma kopi sambil menghayati jejak sejarah panjang kejayaan kopi di Indonesia, hanya ada di Kota Semarang. Koffiebranderij & Koffiehuis "Margoredjo" di kawasan Pecinan, Jl. Wotgandul Barat No. 14, Kranggan, Kota Semarang, adalah sebuah rumah kopi yang pada tahun 1915 merupakan salah satu pabrik pengolahan kopi terkemuka di Nusantara. Rumah kopi itu berada di bangunan tua berusia lebih dari seabad yang tetap dipertahankan keasliannya. Bangunan utamanya berupa rumah tinggal berarsitektur gaya Eropa dengan pilar bulat di bagian teras. Sedangkan di bagian belakang rumah terdapat pabrik pengolahan kopi yang kini tinggal tersisa mesin-mesinnya. Pabrik penggorengan atau roastery dan penggilingan kopi "Margoredjo", merupakan perusahaan keluarga yang kini masih dipertahankan pewarisnya...
Postingan terbaru

Solo Heritage Festival di Hari Purbakala Nasional Ajak Gen Z Sadari Pentingnya Pelestarian Cagar Budaya

Pemerintah Kota (Pemkot) Solo di Hari Purbakala Nasional yang diperingati setiap tanggal 14 Juni, menggelar even "Solo Heritage Festival 2026" selama tiga hari (12 - 14/6/2026), di 3 lokasi cagar budaya Taman Balekambang, Dalem Sasono Mulyo Keraton Surakarta dan di Museum Keris Nusantara. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Solo, Maretha Dinar Cahyono, di kantornya Jumat (5/6/2026), menjelaskan, "Solo Heritage Festival 2026" merupakan sebuah perayaan budaya yang memadukan pelestarian warisan sejarah dengan berbagai aktivitas kreatif dan edukatif bagi masyarakat.  "Solo Heritage Festival menjadi bagian dari peringatan Hari Purbakala Nasional yang diperingati setiap tanggal 14 Juni. Sekaligus sebagai upaya untuk menghidupkan kembali ruang-ruang cagar budaya sebagai pusat aktivitas masyarakat dan pariwisata," ujarnya. Maretha menyatakan, festival yang mengusung tema “Rupa Rasa Warisan" merefleksikan dua kekuatan utama warisan budaya Kota S...

Pemkot Solo Gelar SUARAGA Fest untuk Angkat Potensi Lokal Jawa Wellness

Pemkot Solo mengangkat potensi lokal masyarakat Jawa di bidang kesehatan, seni budaya dan nilai-nilai hidup yang disebut Jawa Wellness yang dikemas dalam SUARAGA Fest. Wali Kota Solo Respati Ardi, menyatakan, SUARAGA Fest yang akan digelar 4 - 5 Juli 2026 di kawasan Taman Balekambang, mencakup tiga unsur utama, yakni suara, raga, dan karya. "Kita ingin membuat sesuatu yang baru untuk membranding identitas Wellness City, yaitu SUARAGA Fest. Ada tiga unsur yang kita tampilkan, yaitu raga dalam wujud yoga, mat pilates, senam kesegaran jasmani, dance cardio, dan berbagai pengalaman wellness," ujarnya di Roemahkoe Heritage Kampung Batik Laweyan, Sabtu (27/6/2026). Festival yang dominan menampilkan kekhasan nilai-nilai Jawa tersebut, menurut Respati, dipilih karena selama ini banyak event festival yang digelar di Kota Solo kurang melibatkan potensi lokal. "SUARAGA Fest merupakan event yang mengenalkan filosofi Jawa Wellness, seperti 'jagad kecil jagad ageng' yang  makn...

Duit di Zaman (Tak) Normal

Tatkala kolonial Belanda masih bercokol di Bumi Nusantara, rakyat Indonesia –khususnya rakyat lapisan bawah di Jawa – pernah mengalami suatu masa yang populer dengan sebutan “zaman normal”. Maksudnya, secara politis rakyat Indonesia berada dalam cengkeraman penjajah. Namun secara ekonomi mereka yang sebenarnya dalam kategori miskin tidak merasa kekurangan. Konon, kala itu dengan memiliki uang “satu bil” yang senilai setengah sen, atau punya uang “sebenggol” setara dengan dua setengah sen, orang-orang di “zaman normal” dapat membeli berbagai barang kebutuhan hidupnya. Kalau keadaan tersebut dikisahkan saat ini, generasi sekarang pasti memandangnya sebagai utopia dan menganggapnya sebagai suatu hil yang mustahil. Sebab, bagaimana wujud mata uang bil dan benggol, generasi masa kini pasti jarang – atau mungkin tidak ada – yang pernah melihatnya. Sekadar gambaran agar pembaca dapat membayangkan, mata uang bil dan benggol terbuat dari logam tembaga. Diameter uang logam benggol sekira dua se...

Kearifan Lokal dari Kepulauan Maluku

Tatkala wilayah Kepulauan Maluku, Seram, Ambon, Banda dan sekitarnya belum terkoyak oleh konflik berdarah berkepanjangan yang menelan banyak korban jiwa, wilayah yang dihuni banyak suku dengan beragam agama itu begitu damai. Selama berabad-abad masyarakat hidup rukun, saling bantu dan saling dukung dalam berbagai segi kehidupan. Kunci kedamaian dan kerukunan itu, tidak lain adalah tradisi dan adat masyarakat setempat yang disebut “Pela Gandong.” Sebuah tradisi yang hanya memberi ruang bagi terciptanya harmoni dalam kehidupan masyarakat. Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, sangat mengagungkan harkat kemanusiaan secara utuh tanpa memandang perbedaan dalam wujud apapun. “Pela Gandong” terdiri dari dua kata dalam bahasa daerah Ambon. Arti harfiahnya, “pela” berarti “kampung” dan “gandong” bermakna saudara kandung. Berdasarkan arti kata tersebut, dalam praktik kehidupan masyarakat “Pela Gandong” adalah “warga sekampung (Kepulauan Maluku) adalah saudara sekandung.” Jadi, setelah...

Teater Hidup Pengantin Jawa

Dalam lingkaran hidup masyarakat Timur, khususnya masyarakat Jawa di Solo dan Yogya, sejak seseorang lahir sampai di masa tua seringkali mengalami tahap-tahap yang membawa kesan estetika dan eksotisme tersendiri. Keindahan dan romantisme dalam setiap tahapan, banyak termanifestasikan dalam bentuk ritus dan upacara adat dan tradisi yang menurut kacamata modern begitu rumit. Itu sebabnya, “manusia Jawa” – katakanlah begitu – seolah-olah hidup di panggung teater yang tidak terlepas dari ritus-ritus dan upacara lingkaran kehidupan. Bisa jadi kesan indah dan eksotis itu melintas semasa seseorang masih kanak-kanak. Seseorang yang lain mungkin menjumpai kesan keindahannya di masa puber pada usia remaja atau saat dia menginjak usia dewasa. Semua kesan itu berkembang seiring bertumbuhnya peradaban umat manusia yang kian tak terjajagi. Di antara sederet pengalaman hidup yang memberikan kesan paling dalam (yang dialami hampir setiap orang) adalah di saat seseorang menikah dan menjadi raja sehari...

Sultan & Sunan di Keraton Jawa

Sebutan Sultan bagi seorang raja, terdapat di berbagai Negara. Di Malaysia, banyak ditemukan raja bergelar sultan. Di Negeri Jiran itu, di antaranya ada Sultan Johor, Sultan Kelantan dan sebagainya. Di Brunei Darussalam, Kepala Negaranya juga seorang Sultan bernama, Sultan Hasanal Bolkiah. Di Bumi Nusantara, sejak semasa zaman aristokrasi dulu sampai di abad modern ini masih banyak raja – meski tanpa kerajaan yang berdaulat mandiri – yang menyandang sesebutan sultan. Dari ujung timur Indonesia ada Sultan Ternate, di Bumi Sulawesi ada Sultan Hasanudin, kemudian di daerah lain ada Sultan Siak, di Banten zaman baheula ada Sultan Banten, di Cirebon ada Sultan Cirebon dan masih banyak lagi. Barangkali yang paling popular di masa kini adalah Sri Sultan Hamengkubuwono X yang bertahta di Keraton Yogyakarta. Dalam tradisi keraton Jawa sendiri – dalam hal ini Keraton Surakarta Hadiningrat dan Keraton Yogyakarta Hadiningrat yang merupakan penerus dinasti Mataram – ada dua sebutan raja di masing...